Tuesday, December 9, 2014
Sunday, November 9, 2014
ayo hadiri dan saksikan bedah buku yang diselenggarakan kelompok studi ilmu pendidikan..
acara : bedah buku pendidikan "pendidikan anti korupsi di sekolah" penulis agus wibowo
waktu : selasa 11 november 2014 pukul 08.00 sampai selesai
tempat teatrikal fakultas tarbiyah uin sunan kalijaga yogyakarta..
gratis, snack, sertifikat, wifi, surat izin bagi yang membutuhkan......!!!!
cp : 08998386994
acara : bedah buku pendidikan "pendidikan anti korupsi di sekolah" penulis agus wibowo
waktu : selasa 11 november 2014 pukul 08.00 sampai selesai
tempat teatrikal fakultas tarbiyah uin sunan kalijaga yogyakarta..
gratis, snack, sertifikat, wifi, surat izin bagi yang membutuhkan......!!!!
cp : 08998386994
Thursday, October 9, 2014
Kali ini KSiP mengadakan diskusi ilmiah yang bisa diikuti oleh mahasiswa UIN Sunan Kalijaga maupun mahasiswa universitas lain. dan bagi anda yang bukan mahasiswa pun bisa mengikuti, Diskusi ilmiah kali ini fokus membahasa mengenai Bagaimana caranya membangun kembali pendidikan dengan tradisi ilmu.
Diskusi ini akan dibawakan oleh dua narasumber ternama yang merupakan praktikan dan pemikir pendidikan. diantaranya adalah Dr. Hujair Sanaky yang merupakan direktur magister pasca sarjana studi islam UII dan Dr. M.Qowim, M.Ag. yang diambil dari Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Acara diskusi ilmiah ini diselenggarakan pada hari sabtu 11 Oktober 2014 pada jam 8 pagi di Ruang teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran bisa menghubungi
Laily 0857-27710671
Syafii 0899-8386-994
dengan format: KSiP <nama> <fakultas> <NIM> <Univ (bagi lain UIN SuKa)>
Diskusi ini akan dibawakan oleh dua narasumber ternama yang merupakan praktikan dan pemikir pendidikan. diantaranya adalah Dr. Hujair Sanaky yang merupakan direktur magister pasca sarjana studi islam UII dan Dr. M.Qowim, M.Ag. yang diambil dari Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
Acara diskusi ilmiah ini diselenggarakan pada hari sabtu 11 Oktober 2014 pada jam 8 pagi di Ruang teatrikal Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga
Untuk informasi lebih lanjut dan pendaftaran bisa menghubungi
Laily 0857-27710671
Syafii 0899-8386-994
dengan format: KSiP <nama> <fakultas> <NIM> <Univ (bagi lain UIN SuKa)>
Tuesday, October 7, 2014
Pemateri mufiati
Tema : “membangun kembali pendidikan dengan tradisi ilmu”
Diskusi pada hari ini membahas
tentang tema yang akan digunakan pada seminar diskusi ilmiah pendidikan
beberapa hari setelahnya. Dalam diskusi ini selain membahas materi tentang tema
yang akan digunakan pada seminar tersebut, juga rapat membahas segala hal lain
yang terkait dengan kegiatan diskusi ilmiah yang akan dilakukan perkiraan hari
kamis 09, Oktober 2014.
Pada diskusi ini sebenarnya
membahas Term Of Reference yang akan diberikan
kepada pemateri seminar tersebut. Pemateri pada seminar tersebut adalah Dr.
Hujair sanky (beliau adalah direktur pascasarjana magister studi
Dalam TOR tersebut disebutkan
beberapa point penting yang menjadi acuan pada seminar diskusi ilmiah yang akan
dilakukan. Ada 3 point penting :
1.
Pada point pertama dijelaskan bahwa pada zaman
nabi, ada sekelompok orang yang sangat haus akan ilmu, atau biasa disebut ahlu shuffah. Ahlu shuffah ini adalah
sekolompok orang yang tinggal di serambi masjid nabawi. Kegiatan mereka adalah
mengadakan semacam halaqah/diskusi yang diisi langsung oleh nabi. Mereka adalah
cikal bakal pengembangan ilmu pengetahuan dalam dunia islam.
Pada sejarah
selanjutnya kita tahu bahwa dunia islam waktu itu adalah pusat peradaban dunia.
Berangkat dari semangat keilmuan ahlu shuffah, Di dunia islam perkembangan ilmu
pengetahuan sangat pesat. Sebagai contoh nama-nama seperti ibnu sina sebagai
pakar kedokteran awal, alkhawarizmi sebagai pakar matematika, ibnu khaldun
sebagai sosiolog pertama (seharusnya ibnu khaldun, bukan auguste comte) dan
tokoh-tokoh lainnya. Pada masa ini sudah
menjadi catatan sejarah bahwa islam adalah pemegang tonggak peradaban dunia.
2.
Namun dalam perjalanannya, islam mulai
menunjukkan penurunan kualitas dari segi ilmu pengetahuan. Ditandai dari
kekalahan perang salib, penyalinan, dan pemusnahan buku-buku ilmu pengetahuan
dalam tubuh islam membuat islam menjadi ling-lung.
Islam kembali terjun dalam paradigma
mistik yang tidak berdasar. Pada masa ini islam mengalami kemunduran dari segi
ilmu pengetahuan yang cukup ekstrem. Islam kembali kepada masa suram ilmu
pengetahuan.
3.
Pada point ini, dengan mengkontekskan dalam
masyarakat indonesia mencoba memberikan solusi atas kemunduran itu. Disini
dihadirkan 4 langkah yang harus terus dilakukan oleh mahasiswa sebagai agent of
change untuk menjadi penggerak kemajuan ilmu pengetahuan di indonesia. Langkah
tersebut adalah : membaca, menulis,
meneliti, dan berdiskusi. Keempat hal tersebut bersifat dinamis. Artinya
kegiatan tersebut harus terus dilakukan.
Sehingga dengan solusi yang telah
dihadirkan tadi diharapkan mampu memberikan break
true terhadap common sense masyarakat
intelektual di indonesia. Kebangkitan ilmu pengetahuan menjadi cita-cita
bersama, semoga. ...!
Wednesday, October 1, 2014
Menonton “film” pemilihan ketua
umum DPR periode 2014-2019 semalam membuat perut kocak dan air mata berlinang
tanda malu. Di negeri yang sudah 69 tahun mendeklarasikan kemerdekaannya ini sistem
pemerintah yang ada masih “amberegul bahrelway”. Alih-alih menyaingi india yang
sudah mempersiapkan pesawatnya ke mars, negeri yang di juluki zamrut
khatulistiwa ini masih saja saling adu jotos perihal pemerintahannya. Para wakil
rakyatnya semalaman rapat Cuma membahas susunan kepemimpinan legislatif yang
jika diamati dengan seksama hal itu sudah sangat kelihatan terlalu “distir”.
Politik memang bukan barang suci.
Di dalamnya pasti ada intrik-intrik busuk yang menggiring para punggawanya
masuk dalam lingkaran setan yang tak berujung. Politik memang menjadi kendaraan
para birokrat dan tekhnokrat untuk melanggengkan kekuasaanya. Rakyatpun Cuma bisa
menatap polos bak anak ingusan yang baru lahir. Tangis hegemoni gramsci
menggema disetiap ujung negeri ini.
Namun bukan berarti anti politik
adalah jawabannya. Politik adalah bak obat pahit yang harus diminum untuk
mendapatkan cinta dan kebijaksanaan. Keberanian untuk mengendalikannya harus
sama seperti keberanian para gladiator mengendalikan toro sang banteng matador .
keberanian ini harus dimiliki setiap warga negara agar tatanan negara menjadi
sejuk dan damai. Tak usahlah muluk-muluk macam dunia utopisnya mark, cukup membuat
rakyat indonesia kenyang itu sudah bisa membungkam para inlanderr di negeri
ini.
Namun batu tak mungkin hilang. Masalah
memang harus ada sebagai roh kehidupan. Kita harus menikmati setiap tarikan
masalah yang ada di negeri para petani ini. Uu pilkada, korupsi, nepotisme,
lahirnya neo orba, dan masih segudang dokumen-dokumen masalah di negeri ini,
jadikan itu sebagai tontonan penghibur ketika mengusap keringat setelah
kesusahan mencari air karena habis disedot oleh pompa-pompa hotel kapitalis.
Namun negeri ini bukan negara
yang tanpa prestasi. Dari para atlet yang mampu merebut hati dan medali para
penonton asean games itu, hingga batik sebagai simbol keagungan bangsa ini
dimata dunia. Ohh yaa hari ini adalah hari batik nasional.
Batik sebagai sebuah identitas
bangsa merupakan perlambang persatuan di negari subur ini. Tulisan Bhineka tunggal
ika yang ada di pita burung khayal yang hanya ada di cerita itu, maknanya
tersemat dalam keanekaragaman batik ini. Meskipun berbagai macam corak batik
hadir menghiasi setiap penjuru daerah, namun tidak ada satupun yang ribut
gara-gara ingin menang sendiri menonjolkan kegagahan batiknya. Tak seperti para
politikus yang tersandera
kepentingan pribadi dan ideologi partainya, batik menjadi alat pemersatu pluralitas
keberagaman bangsa.
Lihat saja ketika para batik itu
bertemu satu sama lain, mereka saling menyapa dan menggagumi keindahan
masing-masing corak tersebut. Tak ada yang dihina atau di lecehkan, mereka
saling berjejer berirama dalam berbagai macam itu, melebur menjadi satu membuat dua warna yang menghiasi
tiang-tiang di nusantara... merah dan putih...
Selamat hari batik nasional.....
jangan lupa memakai batik, kita jaga dan lestarikan budaya bangsa untuk anak
cucu kita.....
Merdeka merdeka merdeka !!!!!
Ditengah
dinginnya subuh Yogyakarta
Tuesday, September 30, 2014
Anggaran fungsi pendidikan senilai Rp 409 triliun tersebut menjadi bagian dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2015 yang disahkan dalam Rapat Paripurna DPR, di Jakarta, Senin (29/9). Porsi anggaran pendidikan itu 20,06 persen dari total belanja negara yang bernilai Rp 2.039,48 triliun.
Sebagai tambahan, dalam APBN 2014, anggaran pendidikan dialokasikan Rp 368,9 triliun. Dalam APBN Perubahan 2014 ada tambahan senilai Rp 6,5 triliun sehingga total menjadi Rp 375,4 triliun.
Pasal 49 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan, alokasi dana pendidikan selain gaji pendidikan dan biaya pendidikan kedinasan, minimal 20 persen dari APBN dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Anggaran pendidikan tahun 2015 terdiri atas anggaran pendidikan melalui belanja pemerintah pusat dan transfer ke daerah. Alokasinya masing-masing Rp 154,24 triliun dan Rp 254,89 triliun.
Beberapa alokasi anggaran pendidikan yang sudah dibahas ialah anggaran yang ditransfer ke daerah. Beberapa di antaranya untuk tunjangan profesi guru pegawai negeri sipil daerah (PNSD) Rp 70,25 triliun, dana tambahan penghasilan guru PNSD Rp 1,09 triliun, dan bantuan operasional sekolah (BOS) Rp 31,29 triliun.
Koordinator Divisi Monitoring Pelayanan Publik Indonesia Corruption Watch Febri Hendri, di Jakarta, Selasa (30/9), mengatakan, kenaikan anggaran pendidikan yang cukup signifikan tersebut dirasakan belum mampu mendongkrak kondisi pendidikan secara menyeluruh. Setidaknya, itu terlihat dari mutu guru yang belum kunjung meningkat signifikan ataupun sarana prasarana pendidikan yang masih menjadi masalah di banyak sekolah dan daerah.
Febri mencontohkan anggaran untuk gaji dan tunjangan atau kesejahteraan guru yang besar. Kebijakan untuk menyejahterakan guru tersebut tidak disertai dengan program holistik untuk menjamin peningkatan mutu guru secara terus-menerus dan
masif.
masif.
Selain itu, guru tidak tersedia secara merata di daerah-daerah terpencil. ”Akibatnya, anggaran kesejahteraan guru yang besar belum dibarengi dengan mutu guru,” kata Febri.
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia Sulistiyo mengatakan, postur anggaran harus jelas menunjukkan skala prioritasnya. Soal guru yang dikeluhkan mutu dan distribusinya, misalnya, harus menjadi perhatian serius.
”Anggaran peningkatan mutu guru juga menjadi tanggung jawab pemerintah daerah karena dana pendidikan sebagian ditransfer ke daerah. Namun, perhatian pada peningkatan mutu guru dan ketersediaan guru di daerah justru rendah dan tidak diperhatikan,” kata Sulistiyo.
Anggota Komisi X DPR, Ferdiansyah, mengatakan, pemerintah terlihat tidak transparan dalam mengalokasikan anggaran, misalnya dalam anggaran Kurikulum 2013. Dana yang dipakai untuk membiayai kurikulum baru itu cukup besar, tetapi banyak muncul persoalan, seperti kekurangan buku teks dan kurangnya pelatihan guru.
Menurut Ferdiansyah, sampai saat ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan belum secara menyeluruh menyampaikan rencana penggunaan anggaran Kurikulum 2013 di setiap satuan kerja. Padahal, persoalan di lapangan menunjukkan ketidaksiapan implementasi kurikulum itu. ”Kemdikbud terkesan tak mau diawasi soal anggaran Kurikulum 2013. Jangan sampai uang negara digunakan tidak efektif dan efisien,” kata Ferdiansyah. (LAS/ELN)
Monday, September 29, 2014
Hasil diskusi KSiP(kelompok Studi Ilmu Pendidikan) pada sabtu sore, 22 September 2014
Tema: Kepenulisan
Sub tema: “memulai langkah dengan menulis opini dan resensi buku”
Bagaimana sikap kita, jika suatu hari tiba-tiba pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan, sedang kita -sebagai pendidik- merasa kurang setuju atas kebijakan tersebut. Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita berkoar-koar melontarkan pendapat dengan pengeras suara? Atau hanya diam saja memendam ketidaksetujuan? Jawabannya tidak! Lontarkan opini kalian melalui menulis. Dengan berkoar-koar suara kita mungkin hanya didengar paling banyak 100 hingga 200 an orang, tapi jika lewat tulisan, tak menutup kemungkinan tulisan kita akan dibaca oleh ribuan orang di sana.
Dunia kepenulisan seharusnya bukan suatu hal yang asing, apalagi di kalangan mahasiswa. Banyak sekali macam bentuk tulisan yang seringkali kita lihat di berbagai tempat. Di antaranya resensi, opini, karya tulis ilmiah, review, essay, dsb. Namun dalam kesempatan sore ini, diskusi KsiP lebih mengerucutkan pada kepnulisan opini dan resensi.
1. Opini
Opini secara singkat berarti pendapat, ide, gagasan, pemikiran. Adapun strukturnya ialah:
a. Fakta; berisi peristiwa yang terjadi sekarang ini
b. Isi; berupa argumen-argumen. Bisa dikutip dari pemikiran para ahli/tokoh, berisi pro atau kontra dari suatu peristiwa, serta disertakan solusinya.
*Penulis awal kerap kali kesulitan untuk membuahkan buah pemikiran, dan jika sudah berbuah ide, itupun tidak dapat fokus dengan ide tersebut. Ini disebabkan karena tidak terbiasa menulis. Keterampilan menulis tidak lahir serta merta. Harus selalu mencoba dan terus mencoba.
Solusinya: baca opini minimal 5 buah opini per hari, sering up date berita, dan pahami/dalami satu bidang (jika ingin dimuat di media massa). Jika ide tidak fokus, buatlah sub judul sebagai pembatas agar tidak melenceng jauh, serta rajinlah menulis agar kata-kata yang dituliskan bisa efektif.
2. Resensi
Resensi khususnya resensi buku secara umum biasanya berisi tentang isi singkat (sinopsis) buku, keunggulan dan kelemahan buku serta manfaat buku.
Masing-masing media, biasanya mempunyai kriteria dalam menerbitkan suatu resensi. Misal koran KR resensinya lebih pada mengulas/mereview buku aslinya. Berbeda lagi dengan kompas, ini lebih mengarah pada konsep resensi yang hampir ideal.
Modal untuk terampil menulis dapat diperoleh dari seringnya membaca (entah membaca koran, buku, dsb), berdiskusi, serta selalu istiqomah dalam menulis seharinya. KSiP, sebagai salah satu wadah yang berhaluan pada pendidikan, senantiasa dapat membekali kita dengan hal-hal di atas. Yakni sarat akan diskusi rutinnya, memfasilitasi aneka buku bacaan, serta mengajak berfikir kritis tentang berbagai kebijakan pendidikan.
Tema: Kepenulisan
Sub tema: “memulai langkah dengan menulis opini dan resensi buku”
Bagaimana sikap kita, jika suatu hari tiba-tiba pemerintah mengeluarkan kebijakan baru yang berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan, sedang kita -sebagai pendidik- merasa kurang setuju atas kebijakan tersebut. Apa yang harus kita lakukan? Haruskah kita berkoar-koar melontarkan pendapat dengan pengeras suara? Atau hanya diam saja memendam ketidaksetujuan? Jawabannya tidak! Lontarkan opini kalian melalui menulis. Dengan berkoar-koar suara kita mungkin hanya didengar paling banyak 100 hingga 200 an orang, tapi jika lewat tulisan, tak menutup kemungkinan tulisan kita akan dibaca oleh ribuan orang di sana.
Dunia kepenulisan seharusnya bukan suatu hal yang asing, apalagi di kalangan mahasiswa. Banyak sekali macam bentuk tulisan yang seringkali kita lihat di berbagai tempat. Di antaranya resensi, opini, karya tulis ilmiah, review, essay, dsb. Namun dalam kesempatan sore ini, diskusi KsiP lebih mengerucutkan pada kepnulisan opini dan resensi.
1. Opini
Opini secara singkat berarti pendapat, ide, gagasan, pemikiran. Adapun strukturnya ialah:
a. Fakta; berisi peristiwa yang terjadi sekarang ini
b. Isi; berupa argumen-argumen. Bisa dikutip dari pemikiran para ahli/tokoh, berisi pro atau kontra dari suatu peristiwa, serta disertakan solusinya.
*Penulis awal kerap kali kesulitan untuk membuahkan buah pemikiran, dan jika sudah berbuah ide, itupun tidak dapat fokus dengan ide tersebut. Ini disebabkan karena tidak terbiasa menulis. Keterampilan menulis tidak lahir serta merta. Harus selalu mencoba dan terus mencoba.
Solusinya: baca opini minimal 5 buah opini per hari, sering up date berita, dan pahami/dalami satu bidang (jika ingin dimuat di media massa). Jika ide tidak fokus, buatlah sub judul sebagai pembatas agar tidak melenceng jauh, serta rajinlah menulis agar kata-kata yang dituliskan bisa efektif.
2. Resensi
Resensi khususnya resensi buku secara umum biasanya berisi tentang isi singkat (sinopsis) buku, keunggulan dan kelemahan buku serta manfaat buku.
Masing-masing media, biasanya mempunyai kriteria dalam menerbitkan suatu resensi. Misal koran KR resensinya lebih pada mengulas/mereview buku aslinya. Berbeda lagi dengan kompas, ini lebih mengarah pada konsep resensi yang hampir ideal.
Modal untuk terampil menulis dapat diperoleh dari seringnya membaca (entah membaca koran, buku, dsb), berdiskusi, serta selalu istiqomah dalam menulis seharinya. KSiP, sebagai salah satu wadah yang berhaluan pada pendidikan, senantiasa dapat membekali kita dengan hal-hal di atas. Yakni sarat akan diskusi rutinnya, memfasilitasi aneka buku bacaan, serta mengajak berfikir kritis tentang berbagai kebijakan pendidikan.
Subscribe to:
Comments (Atom)





