Wednesday, October 1, 2014

POLEMIK POLITIK DI NEGERI BATIK


Menonton “film” pemilihan ketua umum DPR periode 2014-2019 semalam membuat perut kocak dan air mata berlinang tanda malu. Di negeri yang sudah 69 tahun mendeklarasikan kemerdekaannya ini sistem pemerintah yang ada masih “amberegul bahrelway”. Alih-alih menyaingi india yang sudah mempersiapkan pesawatnya ke mars, negeri yang di juluki zamrut khatulistiwa ini masih saja saling adu jotos perihal pemerintahannya. Para wakil rakyatnya semalaman rapat Cuma membahas susunan kepemimpinan legislatif yang jika diamati dengan seksama hal itu sudah sangat kelihatan terlalu “distir”.
Politik memang bukan barang suci. Di dalamnya pasti ada intrik-intrik busuk yang menggiring para punggawanya masuk dalam lingkaran setan yang tak berujung. Politik memang menjadi kendaraan para birokrat dan tekhnokrat untuk melanggengkan kekuasaanya. Rakyatpun Cuma bisa menatap polos bak anak ingusan yang baru lahir. Tangis hegemoni gramsci menggema disetiap ujung negeri ini.
Namun bukan berarti anti politik adalah jawabannya. Politik adalah bak obat pahit yang harus diminum untuk mendapatkan cinta dan kebijaksanaan. Keberanian untuk mengendalikannya harus sama seperti keberanian para gladiator mengendalikan toro sang banteng matador . keberanian ini harus dimiliki setiap warga negara agar tatanan negara menjadi sejuk dan damai. Tak usahlah muluk-muluk macam dunia utopisnya mark, cukup membuat rakyat indonesia kenyang itu sudah bisa membungkam para inlanderr di negeri ini.
Namun batu tak mungkin hilang. Masalah memang harus ada sebagai roh kehidupan. Kita harus menikmati setiap tarikan masalah yang ada di negeri para petani ini. Uu pilkada, korupsi, nepotisme, lahirnya neo orba, dan masih segudang dokumen-dokumen masalah di negeri ini, jadikan itu sebagai tontonan penghibur ketika mengusap keringat setelah kesusahan mencari air karena habis disedot oleh pompa-pompa hotel kapitalis.
Namun negeri ini bukan negara yang tanpa prestasi. Dari para atlet yang mampu merebut hati dan medali para penonton asean games itu, hingga batik sebagai simbol keagungan bangsa ini dimata dunia. Ohh yaa hari ini adalah hari batik nasional.
Batik sebagai sebuah identitas bangsa merupakan perlambang persatuan di negari subur ini. Tulisan Bhineka tunggal ika yang ada di pita burung khayal yang hanya ada di cerita itu, maknanya tersemat dalam keanekaragaman batik ini. Meskipun berbagai macam corak batik hadir menghiasi setiap penjuru daerah, namun tidak ada satupun yang ribut gara-gara ingin menang sendiri menonjolkan kegagahan batiknya. Tak seperti para politikus yang tersandera kepentingan pribadi dan ideologi partainya, batik menjadi alat pemersatu pluralitas keberagaman bangsa.
Lihat saja ketika para batik itu bertemu satu sama lain, mereka saling menyapa dan menggagumi keindahan masing-masing corak tersebut. Tak ada yang dihina atau di lecehkan, mereka saling berjejer berirama dalam berbagai macam itu, melebur  menjadi satu membuat dua warna yang menghiasi tiang-tiang di nusantara... merah dan putih...
Selamat hari batik nasional..... jangan lupa memakai batik, kita jaga dan lestarikan budaya bangsa untuk anak cucu kita.....
Merdeka merdeka merdeka !!!!!


Ditengah dinginnya subuh Yogyakarta



 syafii

0 comments:

Post a Comment