Menonton “film” pemilihan ketua
umum DPR periode 2014-2019 semalam membuat perut kocak dan air mata berlinang
tanda malu. Di negeri yang sudah 69 tahun mendeklarasikan kemerdekaannya ini sistem
pemerintah yang ada masih “amberegul bahrelway”. Alih-alih menyaingi india yang
sudah mempersiapkan pesawatnya ke mars, negeri yang di juluki zamrut
khatulistiwa ini masih saja saling adu jotos perihal pemerintahannya. Para wakil
rakyatnya semalaman rapat Cuma membahas susunan kepemimpinan legislatif yang
jika diamati dengan seksama hal itu sudah sangat kelihatan terlalu “distir”.
Politik memang bukan barang suci.
Di dalamnya pasti ada intrik-intrik busuk yang menggiring para punggawanya
masuk dalam lingkaran setan yang tak berujung. Politik memang menjadi kendaraan
para birokrat dan tekhnokrat untuk melanggengkan kekuasaanya. Rakyatpun Cuma bisa
menatap polos bak anak ingusan yang baru lahir. Tangis hegemoni gramsci
menggema disetiap ujung negeri ini.
Namun bukan berarti anti politik
adalah jawabannya. Politik adalah bak obat pahit yang harus diminum untuk
mendapatkan cinta dan kebijaksanaan. Keberanian untuk mengendalikannya harus
sama seperti keberanian para gladiator mengendalikan toro sang banteng matador .
keberanian ini harus dimiliki setiap warga negara agar tatanan negara menjadi
sejuk dan damai. Tak usahlah muluk-muluk macam dunia utopisnya mark, cukup membuat
rakyat indonesia kenyang itu sudah bisa membungkam para inlanderr di negeri
ini.
Namun batu tak mungkin hilang. Masalah
memang harus ada sebagai roh kehidupan. Kita harus menikmati setiap tarikan
masalah yang ada di negeri para petani ini. Uu pilkada, korupsi, nepotisme,
lahirnya neo orba, dan masih segudang dokumen-dokumen masalah di negeri ini,
jadikan itu sebagai tontonan penghibur ketika mengusap keringat setelah
kesusahan mencari air karena habis disedot oleh pompa-pompa hotel kapitalis.
Namun negeri ini bukan negara
yang tanpa prestasi. Dari para atlet yang mampu merebut hati dan medali para
penonton asean games itu, hingga batik sebagai simbol keagungan bangsa ini
dimata dunia. Ohh yaa hari ini adalah hari batik nasional.
Batik sebagai sebuah identitas
bangsa merupakan perlambang persatuan di negari subur ini. Tulisan Bhineka tunggal
ika yang ada di pita burung khayal yang hanya ada di cerita itu, maknanya
tersemat dalam keanekaragaman batik ini. Meskipun berbagai macam corak batik
hadir menghiasi setiap penjuru daerah, namun tidak ada satupun yang ribut
gara-gara ingin menang sendiri menonjolkan kegagahan batiknya. Tak seperti para
politikus yang tersandera
kepentingan pribadi dan ideologi partainya, batik menjadi alat pemersatu pluralitas
keberagaman bangsa.
Lihat saja ketika para batik itu
bertemu satu sama lain, mereka saling menyapa dan menggagumi keindahan
masing-masing corak tersebut. Tak ada yang dihina atau di lecehkan, mereka
saling berjejer berirama dalam berbagai macam itu, melebur menjadi satu membuat dua warna yang menghiasi
tiang-tiang di nusantara... merah dan putih...
Selamat hari batik nasional.....
jangan lupa memakai batik, kita jaga dan lestarikan budaya bangsa untuk anak
cucu kita.....
Merdeka merdeka merdeka !!!!!
Ditengah
dinginnya subuh Yogyakarta


0 comments:
Post a Comment