RESUME BUKU BAGIAN I
Oleh :Ahmad Syafii[1]
GURU DALAM PUSARAN KEKUASAAN :Potret Konspirasi dan Politisasi
(Dr. Arif Rohman M.Si)
A.
Citra
Guru Dalam Perspektif.
- · Guru merupakan sosok manusia yang mengagumkan. Pada dirinyalah disemayamkan istilah “digugu” (ditaati) dan “ditiru”(diikuti). Ditaati karena ucapannya memuat kebenaran dan kejujuran, dan diikuti karena tingkah-lakunya mengandung keteladanan akhlaq dan karakter baik. Sosok guru yang berkarakter terpuji inilah yang nantinya dapat berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya dalam rangka membangun peradabanumat.
- · Guru ideal menurut Pakubuwono IV adalah guru yang patut ditimba ilmunya dan dijadikan keteladanan hidup. Sedangkan menurut Muhadjir (1997), guru ideal adalah sosok yang memiliki pengetahuan lebih, mampu mengimplisitkan nilai ke dalam pengetahuannya dan bersedia menularkan pengetahuannya beserta nilainya tersebut kepada orang lain.
- · Peran guru dalam masyarakat tidak kecil, seperti pendapat Frederick meyer, guru berperan dalam “a process leading to the enlightenment of mankid”. Barnadib berpendapat bahwa guru berperan membantu orang lain dalam mengembangkan segenap potensinya demi mencapai kemanusiaan yang lebih tinggi.
- · Dalam membaca peran guru dalam kancah politik masyarakat, dipahami melalui dua telaah yaitu : telaah historis-faktual, dan telaah normatif-idealis.
- · Telaah historis-faktual ingin membaca guru pada data-data sejarah, sedangkan telaah normatif-idealis merupakan telaah pada dataran konsep, pemahaman, dan nilai yang dipahami oleh guru sebagai pelaku perubahan social.
- · Jika dilihat dari telaah historis-faktual, kita dapat melihat sejarah Indonesia sendiri. Tokoh-tokoh yang menjadi tulang punggung kemerdekaan Indonesia tidak lain adalah guru itus endiri. Sebut sajan ama-nama seperti Soedirman, AH Nasution, Yos Sudarto. Tak luput pula para tokoh pergerakan Indonesia seperti Ki Hadjar Dewantara, Soepomo, Soekarno, Wahidin Sudirohusodo, dan yang lainnya tak lain adalah para guru. Tak hanya di Indonesia, tokoh-tokoh pergerakan di Negara lain juga merupakan para guru seperti Tun Abdul Razak (Malaysia) Mahatma Gandhi (India), Muhammad Ali Jinnah (Pakistan), bahkan para Nabi dan Rasul pun memposisikan konteks dirinya dalam masyarakat sebagai guru.
B. Guru
Dalam Relasi Politik.
- · Dalam masyarakat guru merupakan sosok yang menjadi panutan dalam masyarakat. Guru sering aktif berkolaborasi mempengaruhi masyarakat untuk memahami masalah-masalah kemasyarakatan dan mencari solusinya. Untuk itu secara tidak langsung guru menjadi bagian tak terpisahkan dalam interaksi antar kelompok dalam masyarakat, tak terkecuali kelompong kepentingan (interest group) dan kelompok politik (political group).
- · Kelompok kepentingan dibagi menjadi dua : kelompok kepentingan politis (political interest group) dan kelompok kepentingan non-politis (non-political interest group). Kelompok pertama berorientasi mendapatkan jabatan, sedangkan kelompok kedua tidak berorientasi dalam meraih jabatan politik.
- · Secara normatif, guru masuk dalam kelompok kedua yaitu non-political interest group karena guru bertugas mendidik anak-anak di sekolah dengan orientasi mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun benarkan demikian?. Secara tentative menunjukkan bahwa ada beberapa kasus yang menunjukkan guru memasuki ruang-ruang kelompok pertama. Mengapa sebagian guru memiliki orientasi jabatan politik? Benarkah guru yang dianggap sebagai manusia suci ataukah sebagai manusia biasa yang mudah tergoda dengan beragam kenikmatan termasuk kenikmatan jabatan dalam struktur birokrasi politik?
- · Spring (1993) menyebutkan ada 3 kelompok kepentingan utama yang mempengaruhi kebijakan pendidikan suatu Negara, yaitu : 1) Actor utama yaitu pemerintah (politisi, politisi pendidikan, dinas pendidikan, dan pengadilan) 2)Kelompok kepentingan khusus yaitu yayasan pendidikan, serikat guru, sector korporasi 3)Industri pengetahuan yaitu pelaku industri media massa baik cetak maupun elektronik.
- · Terkait dengan relasi perpolitikan tersebut, freire (2000) berpendapat bahwa relasi tersebut dapat memberikan peluang sekaligus tantangan kepada guru untuk membaca situasi dan menempatkan dirinya secara kritis. Kekuasaan dipandangnya sebagai daya dorong dari semua perilaku manusia dimana masyarakat mempertahankan hidupnya, berjuang, dan berusaha mewujudkan cita-cita kehidupannya yang lebih baik.
C. Ketimpangan Relasi Politik Dan Demonstrasi Guru
- · Spring (1993) mensinyalir adanya ketimpangan dalam proses relasi kekuasaan antara guru dengan kelompok masyarakat terutama kelompok politis yang cenderung menggunakan kekuasaannya untuk mengkooptasi guru.
- · Secara teoritis, proses politis kekuasaan terhadap guru dan sekolah terjadi apabila : 1) sistem kekuasaan sentralistik yang berpusat pada pada figur pemimpin tunggal. 2) birokrasi pemerintah cenderung bersifat state qua. 3) kondisi SDM guru yang kurang memiliki ‘nilai tawar’ terhadap kekuasaan rezim.
- · Hal itu berimplikasi pada efek konfrontatif guru berupa demo-demo yang dilakukan guru terutama pasca reformasi orba. Namun efek relasi tersebut tidak hanya konfrontatif namun juga bersifat kolaboratif atau simbiotik.
- · Lalu pertanyaan reflektif untuk kita semua adalah bagaimana seharusnya kita menyikapi permasalah-permasalah tersebut untuk pembelajaran kedepannya bagi kemajuan pendidikan di indonesia? Langkah-langkah seperti apa yang harus dilakukan oleh para guru terkait relasi politik di dunia pendidikan yang semakin rumit itu?
Disarikan dari buku GURU DALAM PUSARAN KEKUASAAN : Potret Konspirasi dan Politisasi karya Dr. Arif Rohman M.Si. buku ini adalah hasil dari penelitian Doktoral beliau dalam menempuh Program Doktor Ilmu Pendidikan Pascasarjana UNY (2013).
[1]Penulis adalah anggota Kelompok Studi ilmu Pendidikan (KSiP) yang merupakan salah satu Badan Otonom Mahasiswa FITK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.



0 comments:
Post a Comment